Rabu, 04 Januari 2012

SK MUSWIL STRUKTUR DPW SRMI SULSEL

Musyawarah Wilayah Serikat Rakyat Miskin Indonesia

(Muswil-SRMI) Sulawesi Selatan




SURAT KETETAPAN

Nomor: 05/Muswil-SRMI/A/I/2012

Sidang Pemilihan Struktur

1. Pasal 9 Anggaran Dasar Serikat Rakyat Miskin Indonesia tentang Badan Organisasi.

2. Pasal 4 Anggaran Rumah Tangga Serikat Rakyat Miskin Indonesia tentang Dewan Pimpinan Wilayah


Berdasarkan:


1. Aspirasi dan usulan peserta Musyawarah Wilayah II Serikat Rakyat Miskin Indonesia (Muswil-SRMI) Sulawesi Selatan.


Memutuskan :

Menetapkan :

Kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah - Serikat Rakyat Miskin Indonesia ( DPW – SRMI ) Sulawesi Selatan, periode 2012-2015 dengan susunan sebagai berikut :


Ketua : Firdaus


Sekertaris : Nizar


Bendahara : Dra. A. Asni


Demikian surat keputusan ini disampaikan untuk digunakan, dipahami dan dilaksanakan sebagaimana semestinya.


Makassar, 02 Januari 2012


Ditetapkan pukul 17.55 Wita


Pimpinan Sidang


Muswil-SRMI


Ketua

Sekertaris

(Najma)

(Megawati)

Readmore »»
Continue Reading...

Minggu, 25 Desember 2011

SURAT KETETAPAN STRUKTUR DPN SRMI

Kongres Luar Biasa Serikat Rakyat Miskin Indonesia (KLB-SRMI)
Bandungan, Semarang Jawa Tengah 17-18 Desember 2011



SURAT KETETAPAN
Nomor: 06/KLB-SRMI/A/XII/2011
Sidang Pemilihan Struktur

Mengingat:

1. Pasal 9 Anggaran Dasar Serikat Rakyat Miskin Indonesia tentang Badan Organisasi.

2. Pasal 3 Anggaran Rumah Tangga Serikat Rakyat Miskin Indonesia tentang Dewan Pimpinan Nasional

Berdasarkan:
1. Aspirasi danl usulan peserta Kongres Luar Biasa Serikat Rakyat Miskin Indonesia (KLB-SRMI).
Memutuskan :

Menetapkan :

Kepengurusan Dewan Pimpinan Nasional - Serikat Rakyat Miskin Indonesia ( DPN – SRMI ) periode 2011-2014 dengan susunan sebagai berikut :

Ketua Umum : Wahida Baharuddin Upa

Sekertaris Jendral : Iskohar

Bendahara Umum : Andi Nursal

Departemen Bacaan : Agus Cahyono

Departemen Organisasi : Henri Anggoro

Untuk Departemen Pendidikan diserahkan kepada DPN terpilih.
Demikian surat keputusan ini disampaikan untuk digunakan, dipahami dan dilaksanakan sebagaimana semestinya.

Semarang, 18 Desember 2011
Ditetapkan pukul 15.05 WIB
Pimpinan Sidang KLB-SRMI





Ketua Sekertaris
(Aji) (Sangkit Widodo)

b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>

Readmore »»
Continue Reading...

Sabtu, 24 Desember 2011

Seruan Solidaritas SRMI Untuk Petani Bima

Sabtu (24/12), ratusan petani yang melakukan aksi pendudukan di Pelabuhan Sape Bima, Nusa Tenggara Barat direpresif oleh aparat kepolisian. Dua orang warga diketahui tewas tertembak timah panas. Sedangkan ratusan lainnya terkena tembakan dan sebagian lagi dalam keadaan kritis.

Aparat polisi tidak berhenti dengan tidak pemukulan dan penembakan, korban-korban yang berjatuhan setelah tertembak peluru kembali dibuang ke laut dan parit-parit. Bahkan, para petani yang telah menjadi korban penembakan, terus menerima pukulan hingga ada yang tewas.

Dihari yang sama, tindakan brutal pihak kepolisian tersebut masih terus berlanjut. Setelah merepresif petani, sejumlah mahasiswa yang melakukan aksi solidaritas untuk petani di gedung DPRD Bima kembali mendapatkan tindakan represif dan pemukulan.

Hingga saat ini, dikabarkan 47 orang petani dinyatakan sebagai tersangka dan 9 orang mahasiswa ikut dijobloskan kedalam jeruji besi. Sementara itu, Adi Supriadi, aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) yang dipenjara sebelumnya, juga belum dibebaskan.

Aksi brutal pihak kepolisian ini merupakan bentuk tangan besi dari negara yang selalu menggunakan praktek-praktek kekerasan dalam setiap penyelesaian konflik agraria. Pemerintah dalam hal ini lebih memilih jalan represif dan mengkriminalisasi rakyat ketimbang memberikan solusi.

Padahal, para petani itu menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang menerbitkan izin eksplorasi pertambangan yang tumpang tindih dengan lahan milik rakyat. Dengan mengantongi SK Bupati Bima No.188 tahun 2010 tentang izin ekplorasi pertambangan, PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN), mencaplok lahan-lahan pemukiman, persawahan, penambakan, dan merusak sumber mata air milik warga.

Sejak setahun lalu, rakyat telah menabu genderang perlawanan terhadap PT. SMN yang saham mayoritasnya dikuasai oleh perusahaan Australia itu. Rakyat menuntut agar perusahaan berhenti beroperasi dan menuntut pencabutan ijin ekplorasi tambang tersebut.

Oleh karena itu, tuduhan sepihak dari pemerintah bahwa aksi petani di pelabuhan Sape telah mengganggu kepentingan umum, hanya cara untuk mengkiriminalisasi protes rakyat. Justru, pemerintah lah yang menjadi “pengacau” kehidupan rakyat dengan membolehkan perusahaan merampas tanah-tanah rakyat.

Demi melayani kepentingan modal asing, pemerintah begitu rela membantai rakyat-nya sendiri dan menuduhnya sebagai penghalang “kepentingan umum”. Padahal, keuntungan yang mengalir untuk pemerintah daerah dari pajak tambang hanya sebesar 2,5 percent saja, 90 percent menjadi milik asing.

Sementara ekonomi produktif rakyat yang menopangi kebutuhan dan pekerjaan rakyat di desa, justru dihancurkan sendiri oleh pemerintah. Jika perusahaan ini terus beroperasi, maka ada puluhan ribu rakyat yang akan kehilangan pekerjaan karena tanah dan sumber air mereka dirampas oleh PT. SMN.

Konflik agraria yang menimbulkan kekerasan ini tentunya dilegalisasi regulasi yang pro-neoliberalisme. UU No.4 tahun 2009 tentang Minerba, memberikan legitimasi yang besar kepada polisi untuk melindungi aset-aset pertambangan asing yang dianggap strategis.

Sehingga, selama UU Pro-neoliberal tersebut masih berlaku, maka sepanjang hidup Bangsa ini kita akan melihat kasus-kasus kekerasan yang melibatkan polisi maupun militer untuk ikut campur tangan dalam setiap penyelesain konflik agraria.

Maka dari itu, SRMI menyatakan sikap;

  1. Copot dan Adili Kapolda serta seluruh Aparat Kepolisian yang terlibat dalam Penembakan terhadap warga di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat.
  2. Cabut SK.Bupati Bima No 118 tahun 2010 tentang Izin Eksplorasi PT Sumber Mineral Nusantara.
  3. Menuntut pembebaskan seluruh warga yang di tangkap Polisi terkait konflik dengan PT Sumber Mineral Nusantara.
  4. Bentuk segera panitia penyelesaian konflik agraria sebagai proses penyelesaian konflik agraria.

Demikian Pernyataan Sikap ini dibuat, atas kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 26 Desember 2011

Bangun dan Perluas Organisasi untuk Indonesia

yang Mandiri Berdaulat dan Berkepribadian

Dewan Pimpinan Nasional

Serikat Rakyat Miskin Indonesia

(DPN-SRMI)

Wahida Baharudin Upa Iskohar

(Ketua Umum) (Sekertaris Jenderal)
b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>

Readmore »»
Continue Reading...

Kamis, 22 Desember 2011

Dokumentasi Kongres Luar Biasa SRMI




b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>

Readmore »»

Henri Anggoro.Iskohar,Wahidah,Agus Cahyono,Andi Nursal
Dokumentasi Kongres Luar Biasa Serikat Rakyat Miskin Indonesia.


Continue Reading...

Rabu, 21 Desember 2011

FOTO KONGRES KLB




Readmore »»
Continue Reading...

Senin, 22 Maret 2010

Kasus Century, GIB Ancam Duduki Kantor KPK

Berdikari Online: Mandeknya proses hukum terkait pengungkapan skandal Bank Century kian mengundang kegundahan.

Setelah diserahkan kepada KPK, itikad baik untuk mengungkap skandal ini seakan membentur tembok besar.

Hal ini disampaikan juru-bicara Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Lalu Hilman Afriandi, saat menyampaikan orasi politik dalam aksi massa di depan Kantor KPK, Senin (22/3).

Menurutnya, KPK telah menghianati kehendak seluruh rakyat, agar kasus Bank Century segera diungkap kebenarannya. "KPK telah menyiramkan air es untuk memadamkan api harapan rakyat terkait pemerintahan bersih," ujarnya.

Ditanyakan kenapa KPK bisa berbalik membokongi kehendak rakyat, Lalu menyatakan, lembaga anti-korupsi ini mulai dimasuki oleh kepentingan penguasa, dalam hal ini pemerintahan SBY-Budiono. "Pihak Istana sudah menaruh "kuda troya" di lembaga anti-korupsi ini.

Dan, mereka menjadi batu penghalang pengungkapan skandal Bank Century," ungkapnya. Ratusan massa ini membawa sejumlah karangan bunga untuk menggambarkan matinya hati-nurani pejabat KPK, dan juga membawa dua poster bergambar Budiono dan Sri Mulyani. Deputi pencegahan KPK, Eko Tjiptadi sempat menemui massa.

Pihaknya mengakui, proses pengungkapan skandal Bank Century membutuhkan proses waktu yang cukup panjang, namun KPK akan tetap "concern" mengawal masalah ini.

Karena belum mendapat kepastian dari pimpinan KPK, massa mengancam akan melakukan pendudukan terhadap Kantor KPK hingga ada pemanggilan dan pemeriksaan terhadap Budiono dan Sri Mulyani. (Ulf)

Continue Reading...

FRAKSI: Pernyatan Pangdam VII Wirabuana Telah Menginjak Demokrasi

MAKASSAR, Berdikari Online: Pernyataan Pangdam VII Wirabuana, Mayjend TNI Hari Krisnomo, terkait pengamanan kunjungan Presiden SBY untuk membuka Muktamar NU di Makasar, Selasa (23/3) terus menuai kecaman.

Aktivis dari Front Rakyat Anti-korupsi (FRAKSI) menuding pernyataan Pangdam itu telah menginjak-injak nilai demokrasi dan kebebasan menyatakan pendapat. "Tidak ada sedikitpun keinginan aktivis pergerakan di Makassar untuk menggagalkan Muktamar NU.

Kita menggelar aksi itu hanya untuk mengeritik sikap Presiden SBY terkait kasus Bank Century," ujar Wahidah B. Upa, salah satu humas FRAKSI saat dihubungi Berdikari Online via telephone.

Dalam pernyataannya di harian Fajar edisi Senin, 22 Maret 2010, Pangdam telah mengancam untuk menggunakan peluru hampa terhadap setiap aksi massa yang hendak mengganggu Muktamar NU. Selain itu, menurut Pangdam, TNI tidak akan menggunakan tameng dalam melakukan pengamanan, melainkan akan menggunakan senapan berisi peluru hampa.

Menurut Wahida B. Upa, pernyataan Pangdam itu sangat provokatif dan seolah-olah menuding aktivis pergerakan yang akan melakukan aksi esok hari sebagai pihak perusuh untuk menggagalkan Muktamar NU. "Pangdam ingin membenturkan antara aktivis dan massa NU.

Ini tindakan provokatif dan tidak ilmiah," tegasnya. Padahal, menurutnya, aksi yang digelar esok hari itu bukan dimaksudkan untuk menentang Muktamar NU, melainkan untuk menyampaikan kritik terhadap SBY terkait penyelesaian skandal Bank Century.

Wahida menjelaskan, Pangdam dan penguasa militer di Sulsel telah berusaha mendorong konflik horizontal dalam menghadapi aksi-aksi protes terkait kasus Century, padahal aksi tersebut sangat terkait dengan kepentingan mayoritas rakyat dan masa depan bangsa.

Untuk itu, dalam aksi besok, berbagai kelompok pergerakan se-Makassar sudah bersepakat menggunakan aksi damai untuk merespon kedatangan presiden SBY, dan akan tetap konsentrasi pada isu pokok saat ini, yakni skandal Bank Century.

Menurut informasi yang dihimpun oleh kontributor Berdikari Online di Makassar, pihak TNI telah mengerahkan kekuatan penuh untuk berjaga-jaga di sejumlah lokasi dekat arena Muktamar, seperti Fly-Over Tol Reformasi. Menurut Pengakuan Pangdam sendiri, seperti yang dilangsir di harian Fajar, pihaknya akan mengerahkan sedikitnya 2000 prajurit TNI, disamping kehadiran 2000 personil kepolisian.

Sedangkan untuk rencana aksi, sejumlah kampus dan elemen pergerakan sudah mempersiapkan diri dan kekuatan untuk menyambut kedatangan SBY. Untuk FRAKSI sendiri, mereka akan menurukan sedikitnya 200 orang massa. (Ulf)

AddThis
Continue Reading...
 

Berita SRMI.online Copyright © 2008 Designed by Dewan Pimpinan Nasional Serikat Rakyat Miskin Indonesia