Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Bunga beton

Bunga beton


Bunga beton tumbuh dimana-mana
Wanginya mengusik Mengusir rumah rumah kumuh
Tempat melepas lelah Kini rata menjadi debu dan abu
Kota semangkin megah yang miskin semangkin tersingkir
kemana lagi harus berteduh
Semua orang butuh rumah
Semua orang butuh rumah
Bukan digusur bukan ganti rugi
Kami butuh rumah Tempat berlindung dari panas dan hujan 


Tanjung duren 30/8/08
Continue Reading...

Rabu, 11 April 2012

Corat-Coret Melawan Lupa

Sanggar Bumi Tarung seperti tak kehabisan energi dalam berkreatifitas dan menyumbangkan gagasan untuk kemajuan negeri. Kali ini, Adrianus Gumelar Demokrasno, salah satu anggota Sanggar Bumi Tarung, menggelar Pameran Tunggal bertajuk Corat-Coret Hitam Putih yang berlangsung dari tanggal 3 April sampai 9 April 2012, di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan dibuka oleh Romo Mudji Sutrisno, SJ.

Melalui Pameran Tunggal Gumelar inilah, Amarzan Ismail Hamid Lubis, yang juga dikenal sebagai wartawan senior Tempo, semakin yakin bila Sanggar Bumi Tarung tak seperti sanggar-sanggar lainnya atau seperti yang disangka orang bahwa sanggar hanya akan melahirkan pengikut. “Bumi Tarung tidak. Tapi justru melahirkan produk-produk yang berbeda,” katanya pada diskusi yang diselenggarakan sekaligus untuk menutup Pameran Corat-Coret Hitam Putih Gumelar pada hari Senin, (9/4/12). Menurut Amarzan, Misbach Tamrin yang ideologis dan paham teori, karya-karyanya nyaris sempurna; Joko Pekik, dengan lukisan yang bergaya pura-pura bodoh padahal Pekik ini sebenarnya pintar; Gultom yang bergaya potret; Isa Hasanda yang nglangut sementara Amrus Natalsya sebagai kepala suku yang bisa menjaga situasi. Mereka semua berbicara tentang pikiran-pikiran.

Pada diskusi itu, Amarzan Lubis mengaku cukup kaget dengan pameran sketsa Hitam Putih Gumelar. Sebab, sketsa bukanlah andalah Bumi Tarung tapi para Pelukis Rakyat. Akan tetapi, menurut Amarzan, yang juga pernah menjadi penghuni Pulau Buru ini, Jim Supangkat yang menganggap Amrus Natalsya sebagai Bapak Patung Kayu Modern Indonesia ini justru lebih suka pada corat-coret hitam putih Gumelar ini yang kuat secara komposisi, pilihan tema dan garis-garisnya. Menurut Amarzan, Gumelar dengan pameran kali ini dan dengan ingatan fotografisnya yang tajam sedang melawan lupa sebagaimana disampaikan Milan Kundera.

“Makin otoriter kekuasaan makin cenderung melupakan sesuatu,” tambahnya sambil memberikan contoh bagaimana bangunan-bangunan di Pulau Buru yang bisa menjadi saksi kekejaman sebuah Rejim sudah hampir dihancurkan semua. “

Amarzan pun bersaksi bahwa apa yang dicorat-coretkan Gumelar mengenai bagaimana para tahanan Pulau Buru diperlakukan adalah benar adanya. “Sketsa-sketsa Pulau Burunya yang ada di sini otentik. Tak ada yang dipalsukan. Saya saksi hidup,“ katanya. Karena itu menurutnya, Pameran Corat-Coret Hitam Putih Gumelar ini penting pun dari sudah sejarah dan merupakan bagian dari perjuangan melawan lupa.

Amarzan Lubis pun mengingatkan bahwa Gumelar sebelum pameran ini berlangsung juga sudah menerbitkan sebuah buku yaitu Dari Kalong Sampai ke Pulau Buru (11 tahun dalam sekapan, penjara, pembuangan dan kerja rodi). Ini merupakan buku gambar dengan sedikit narasi yang mengisahkan bagaimana para tahanan politik yang (dianggap) berideologi komunis diperlakukan atas tuduhan terlibat G 30 S/ PKI tahun 1965.

Romo Mudji Sutrisno, yang menjadi pembicara berikutnya, membenarkan apa yang disampaikan Amarzan Lubis soal perjuangan melawan lupa ini. Menurut Romo Mudji, Sastrawan pemenang Nobel Sastra dari Ceko, Milan Kundera, mengingatkan dengan tandas bahwa kehancuran sebuah bangsa terjadi bila sejarah ingatan kolektifnya dihapus dalam tindakan “sengaja melupakan atau dibuat lupa dan tidak mengenal kembali sejarahnya”.

Romo Mudji mengakui justru dengan Amarzan Lubis menjadi pembicara pertama dia bisa belajar banyak bagaimana kemanusiaan disingkirkan. Garis dan Gores sketsa Pulau Buru Gumelar dibenarkan oleh Amarzan yang juga pernah mendekam di Pulau Buru. Menurut Romo Mudji, Romo-Romo Jesuit yang dikirim ke Pulau Buru dari awal sampai akhir pun menjadi saksi bagaimana kemanusiaan disingkirkan.

Menurut Romo Mudji, Corat-Coret Hitam Putih Gumelar menunjukkan bahwa hidup memang hitam putih, baik dan jahat namun realitasnya ada abu-abu karena dipercaya adanya cahaya sebagaimana yang juga disampaikan dalam catatan pengantar untuk pameran ini: “Namun dalam perjalanan sketsa Adrianus Gumelar adalah perjalanan matang olah batinnya yang tergores dalam tarikan garis-garis hatinya yang mengolah pengalaman-pengalaman getir dan pedih itu dari periode penuh kabut dan kelam menuju periode sketsa-sketsa akhir-akhir ini 2011-an. Mengolah pengalaman dalam renung batin dan dalam religiositas yang hening itulah sketsa-sketsa Adrianus Gumelar 2011-an seakan ingin mengatakan “bahwa dalam Bayang-Bayang” suram tetap dipercayailah adanya CAHAYA yang membuat bayang-bayang itu. Dan cahaya itu adalah CAHAYANYA sang KEHIDUPAN yang meskipun tidak “nampak” (karena berada di balik “bayang-bayang”), Dia tetap menjadi HARAPAN HIDUP untuk bersyukur, mengenang kembali kegembiraan anak-anak yang bermain.”

Gumelar, seniman kelahiran Subang Jawa Barat pada tanggal 29 Desember 1943 dari ayah bernama Abdul Djaffar dan Ibu bernama Fatimah ini pun memang bersyukur atas hidup yang sudah dijalaninya. Namun, ia masih gelisah dengan situasi sekarang yang dianggapnya tak berbudaya dan beradab. Penggusuran dan kekerasan terhadap rakyat masih terjadi. Kemiskinan masih meraja. Permainan tradisional di masa kanak-kanaknya mulai hilang. Semua itu ia tampilkan dalam Pameran Tunggalnya ini: sketsa Corat-Coret Hitam-Putih dengan media Tinta di atas kertas beserta harapan-harapannya: Angon Bebek (2011), Main Jelangkung (2011), Petan (2011), Nelayan Bugis (2011), Keluarga Kecil (2011), Tukang Gali (2011), Dakon, Penggusuran (2011), Anak Nelayan , Rukun Agawe Sentosa (2011), Gusur (2011), Permainan Ular Naga (2011), Nelayan Cilik (2011), Kuda Lumping (Jatilan) (2011), Panem Brama (2011) dan Pasar Lohjinawi, Jual Mainan, Tari Bondan dari tahun 2012.

Menurut Romo Mudji, permainan tradisional anak-anak yang hilang itu karena kita tidak merawat kebudayaan sebagaimana kita juga kehilangan value Sosialisme Indonesia seperti kehidupan yang pro rakyat, pro petani, pro buruh dan pro nelayan.

Pameran tunggal Corat-Coret Hitam Putih Adrianus Gumelar Demokrasno memang sudah ditutup tapi hitam-putihnya kehidupan terus berlanjut. Teringat pada penyair kerakyatan yang dihilangkan oleh rejim Orde Baru juga karena syair dan suaranya yang tak mau dibungkam, Wiji Thukul: “Kaliyan duduk di mana?

Jakarta, 11 04 2012

AJ SUSMANA, pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) dan seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker).

Sumber: http://www.berdikarionline.com/suluh/20120411/corat-coret-melawan-lupa.html?utm_source=dlvr.it&utm

Continue Reading...

Kamis, 18 Februari 2010

Kapan Bangsa China Datang ke Jawa Barat?

Tatar Sunda

Akulturasi bangsa China dengan penduduk di Nusantara sudah terjalin sejak lama, setidaknya berawal dari hubungan niaga pada abad ke-13. Jumlah kedatangan makin meningkat setelah ekspedisi armada Chengho pada abad ke-15.

Selanjutnya, banyak orang China yang kemudian menetap di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Di Jawa Barat, sebagian besar orang China bertempat tinggal di pelabuhan terkemuka pada masa itu, seperti Jayakarta, Banten, dan Cirebon. Di Cirebon, misalnya, jejak pendaratan pertama ditandai dengan Kelenteng Talang, kelenteng tertua di Kota Cirebon. Tan Sam Cay, seorang Muslim Tionghoa yang diberi gelar Tumenggung Aria Dipa Wiracula oleh Sultan Cirebon mendirikan kelenteng tersebut pada tahun 1450.

Selain berdagang, pendatang China juga bersawah atau menjadi buruh. Mereka dikenal sebagai pekerja rajin dan ulet. Tak mengherankan, tenaga pendatang China banyak dimanfaatkan pemerintah Hindia Belanda untuk membangun Kota Batavia pada awal abad ke-17.

Seiring menguatnya kekuasaan, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun sejumlah kota beserta fasilitas jalan dan transportasi di wilayah pedalaman Jabar. Pada awal abad ke-19, pemerintah kolonial mendatangkan ratusan pekerja China dalam pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dan pemasangan jalur rel kereta api. Sejak itulah, keluarga-keluarga dari China berdatangan ke berbagai wilayah di Jabar.

Namun, pemerintah kolonial menerapkan kebijakan lintas ("pass") dan pengelompokan etnis ("zoning system"). Pendatang China tidak diperbolehkan melintasi wilayah tanpa izin, serta diharuskan menetap di kawasan yang sudah ditentukan. Maka, muncullah kampung-kampung China atau pecinan di kota-kota persinggahan, seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, dan Cirebon.

(NDW/LITBANG KOMPAS)

Continue Reading...

Seni

Karikatur

Continue Reading...

Jumat, 22 Januari 2010

Review: Musik Dan Perjuangan

oleh : Ulfa Ilyas*)

JAKARTA, Berdikari Online--Musik telah menjadi bagian dari revolusi sejak awal. Tidak ada revolusi tanpa komunikasi dan debat, dan musik adalah bagian dari hal itu. Kita bisa mengenal deretan pemusik yang telah menjadi bagian dari inspirasi revolusi, seperti Victor Jara di Chile, Silvio Rodríguez di Cuba, Karel Kryl di Czechoslovakia, Jacek Kaczmarski di Polandia, dan Vuyisile Mini di Afrika Selatan. Di belahan dunia barat, nama John Lennon dan Bob Dylan menjadi inspirator utama dari pergerakan kaum muda dan kelas pekerja.

Di Indonesia, terutama dalam pergerakan nasional, nama WR Supratman cukup terkenal dan lagunya "Indonesia Raya" menjadi lagu pergerakan nasional saat itu. Ketika situasi revolusioner sedang memuncak paska Kemerdekaan, salah satu lagu pembakar semangatnya adalah lagu "darah rakyat". Menurut Soe Hok Gie, dalam rapat akbar di lapangan Ikada, lagu "darah rakyat" dibagikan kepada ratusan ribu massa dalam bentuk pamphlet dan dinyanyikan secara bersama-sama.

Memahami arti penting musik dalam perjuangan kemerdekaan, JAKER telah mengumpulkan sejumlah seniman progressif untuk berbicara, diantaranya Ras Muhamad, Franky Sahilatua, Cholil Efek Rumah Kaca, dan Rizal Abdulhadi. Mereka berbicara mengenai perkembangan musik kontemporer, jebakan industri musik, dan bagaimana melahirkan pergerakan musik revolusioner. Hadir pula penulis buku "Soekarno dan perjuangan kebudayaan", Nurani Suyomukti, khusus berbicara mengenai arti penting musik dalam kerangka perjuangan ideology kelas.

Musik dan Aparat Ideologi Kelas

Menurut Nurani, industri bukan hanya mengkomersilkan seni, tetapi telah menjadi aparat ideology kelas berkuasa untuk menaklukkan kesadaran rakyat. Nurani memang betul, seperti juga dikatakan Louis Althuser, bahwa seni komersil telah menjadi apparatus ideologis klas borjuis untuk reproduksi sosial sistem kapitalisme. "Musik komersil benar-benar tidak manusiawi" kata Nurani.

"Musik tidak pernah netral," kata Nurani, "mereka selalu menjelaskan keberpihakan kepada klas sosial tertentu". Dalam masyarakat kapitalis, musik berfungsi bukan hanya sebagai mesin mencari keuntungan (akumulasi profit), namun telah menjadi instrument integrasi sosial di bawah dominasi ideology klas berkuasa.

Kalangan liberal selalu berlindung di balik "kemurnian bermusik", bahwa musik adalah musik, tidak ada politik, ideology, dan kepentingan apapun di dalamnya selain kepentingan estetik dan naluri seorang pemusik. Pada kenyataannya, musik adalah produk dari refleksi fikiran (otak) manusia terhadap keadaan sekitarnya, tidak mandiri, dan selalu terikat dengan ideology klas tertentu. Dalam kaitan ini, Nurani hendak membuktikan bahwa penghancuran karakter kaum muda Indonesai saat ini, sedikit banyaknya, terkait dengan hegemoni musik "sampah" yang disebar-luaskan oleh industri musik.

Seorang pelajar, misalnya, lebih menghafal lagu-lagu dari band-band yang sedang nge-trend, seperti Kangen Band, ST-12, Hijau Daun, Kuburan Band, dsb. daripada lagu-lagu nasional dan kebangsaan. Bahkan, karena derasnya serangan hegemonik industri musik tersebut, anak kecil pun terbawa oleh pengaruh lagu cemen---demikian Nurani menyebutnya.

Untuk itu, Nurani menganjurkan agar kalangan pergerakan tidak menafikan arti penting lagu-lagu perlawanan, sebuah anti-tesa terhadap lagu-lagu dari pasar mainstream. Lagu-lagu perlawanan di sini bukan hanya lagu-lagu ciptaan para aktivis, tetapi juga lagu-lagu rakyat di berbagai daerah yang memiliki kandungan progresivitas.

Musik Perlawanan

Nama "Marcus Garvey", kalau tidak ada musik Bob Marley, maka anak muda di jaman sekarang tentu sedikit sekali yang mengenalnya. Dengan kehadiran Bob Marley untuk menyanyikan lagu-lagu reggae dan mengangkat begitu banyak soal filosofi sosial, maka anak muda bisa banyak belajar dari ajaran-ajaran Garvey, dan terutama sekali mengenai sikap anti-imperialismenya.

Musik reggae bukan hanya menjadi inspirasi bagi "Pan African" dalam melawan neo-kolonialisme, tetapi telah menjadi "identitas" dunia ketiga yang berhasil menembus dunia Eropa dan negara kapitalisme maju. Itulah musik reggae, salah satu genre musik perlawanan sejak awalnya.

Ras Muhamad, salah satu pemusik Reggae Indonesia mencoba untuk mengambil pelajaran dari Bob Marley, filosofi Haile Selassie dan tidak ketinggalan tokoh pembebasan nasional Indonesia, Bung Karno. "Musik harus memiliki nilai fighting spirit," kata Ras Muhamad.

Musik Reggae, kata Ras Muhamad, telah berevolusi bersama dengan perjuangan rakyat Afrika dan dunia ketiga. Reggae politik pernah tumbuh subur dengan tokoh-tokohnya seperti Bob Marley, Peter Tosh, Winston Rodney alias Burning Spear, dan kemudian Jimmy Cliff dan, di London's Brixton, Kwesi Linton Johnson - yang juga sangat dipengaruhi oleh kemenangan perjuangan anti-kolonial yang melanda Afrika tahun 1960-an dan perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan.

Dalam perjuangan, menurutnya, musik harus ambil bagian secara langsung dan, terutama, menjadi alat untuk menyadarkan dan menggerakkan massa rakyat. Tidak heran, Ras Muhamad pernah membuat lagu berjudul "Siempre", mengisahkan mengenai perjuangan Che Guevara sebagai tokoh pembebas kaum tertindas, dan lagu ini untuk menginspirasikan kepada kaum muda untuk melakukan yang sama dengan Che.

Dalam album Next Chapter, Ras Muhamad dengan terang-terangan mengarahkan "bedil" perlawanan kepada politisi korup, musik komersil, dan kapitalisme. "musik reggae harus bergandengan tangan dengan perjuangan rakyat," tegasnya. Untuk diketahui, Ras Muhamad adalah pengagum berat Bung Karno, dia menyimpan sejumlah koleksi-koleksi mengenai fikiran dan gagasan-gagasan tokoh pembebasan nasional ini. Ras muhamad mengutip Bung Karno, bahwa seni harus membentuk kepribadian bangsa yang sejati, progressif, dan anti imperialisme.

Sementara Cholil (Ef ek Rumah Kaca) tidak berbeda jauh secara prinsip dengan Ras Muhamad, ia hanya menekankan soal metode bagaimana musik bisa membangkitkan dan menggerakkan massa rakyat. Dalam lagu-lagunya, meskipun sudah bisa bertarung di jalur mainstream, namun tetap menyertakan kritik-kritik sosial yang tajam.

Selain topik hak asasi manusia seperti pada lagu Di Udara, Efek Rumah Kaca, yang beranggotakan Cholil, Adrian (bas), dan Akbar (drum), punya lagu lainnya yang sarat akan kritik sosial. Sebut saja, misalnya, Jalang, yang mengkritik Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi; Belanja Terus Sampai Mati tentang budaya hidup konsumerisme; dan Cinta Melulu, yang mengkritik industri musik pop yang mayoritas mengangkat tema cinta. "Seolah-olah tidak ada tema lainnya," kata Cholil.

Terkait dengan musik perlawanan, Cholil mengatakan; "Mungkin musik harus "menggelitik" dahulu bahwa ada sesuatu yang salah, belum sampai pada perlawanan. Dengan begitu, karena genre pop peminatnya sangat besar, maka kita juga bisa menggelitik orang dalam jumlah besar". Menurut Cholil, kita memang bisa menunggangi "industri" untuk menyampaikan pesan kepada banyak orang, tetapi ini bisa membawa konsekunsi: kita tetap konsisten dengan prinsip ataukah justru terkontaminasi dan terbawa pengaruh. "Ini tergantung kepada seberapa kuat kita mempertahankan prinsip,"tegasnya.

Sec ara pelan-pelan, menurut Cholil, orang mulai mencari tahu mengenai isi lagu itu, apakah ada yang salah dengan keadaan, sehingga mulai membentuk sebuah "kesadaran baru". Jadi, kesadaraan itu bisa muncul melalui instrumen media kapitalis. "mereka pemusik mainstream kan hanya menjadi pedagang", kata Cholil, "jadi susah untuk berbicara musik dengan pedagang".

Dalam industri musik, soal skill menjadi tidak terlalu penting, asalkan nadanya indah, punya modal, menguasai marketing, dan bersedia dikendalikan oleh pasar. "Kalau musik perlawanan akan meluas, maka pasar akan berupaya untuk merangkulnya," katanya.

Pendapat lebih tegas datang dari Rizal Abdulhadi, seorang baladis muda yang sangat mengagumi pemusik revolusioner Chile, Victor Jara. Dia menganggap musik seperti "kompor" yang terus membakar semangat revolusioner massa. Lebih jauh, Rizal menekankan pentingnya teori 1-5-1 dalam berkarya, yaitu politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, prinsip 2 T (tinggi mutu ideology dan tinggi artistic), memadukan antara realisme revolusioner dan romantisme revolusioner, Memadukan tradisi baik dengan kekinian revolusioner, dan Turun ke bawah (Turba).

"Musik revolusioner sangat dipengaruhi oleh situasi revolusioner," kata Rizal, "sehingga wajar kalau musik revolusioner agak tenggelam di masa tidak revolusioner seperti saat ini". Tugas musisis revolusioner, menurut Rizal, adalah tetap berkarya dan terus membangkitkan kesadaran massa rakyat.

Peranan musik yang begitu kuat dalam perjuangan diutarakan oleh Franky Sahilatua, bercermin dari pengalaman WR. Supratman dan lagu "Indonesia Raya"-nya dalam perjuangan pembebasan nasional di Indonesia. "ketika deklarasi sumpah pemuda tahun 1928, para pemuda-pemudi hanya mendengar nadanya saja, namun mereka bisa begitu tergugah dan semakin bersemangat untuk memperjuangkan Indonesia Merdeka," ungkapnya.

Lagu "Indonesia Raya", katanya, merupakan salah satu petunjuk jalan bagi tokoh pergerakan saat itu mengenai Indonesia di masa depan-Indonesia merdeka. Pada tahun 1996, Franky mencipta lagu berjudul "Perahu Retak", sebuah lagu yang turut menginspirasi kaum muda di gang-gang sempit dan pemukiman kumuh dalam perjuangan melawan kediktatoran Orde Baru. "Lagu itu saya buat hanya beberapa hari menjelang peristiwa 27 Juli 1996 di Kantor PDIP Perjuangan, Jalan Diponegoro," kata Franky mengenang peristiwa itu.

Menurut Franky, sebuah nada akan memiliki energi kalau enak di dengar dan akrab di telinga rakyat, dan sebuah lirik juga akan berenergi jikalau itu mencerminkan keresahan dan kehendak rakyat.

Soal Pilihan dalam Perjuangan

Soal musik, Franky membagi menjadi dua kutub; ada pohon musik pop dan ada pohon musik perlawanan. Usaha untuk memadukan kedua pohon ini merupakan sesuatu yang sulit, apalagi hari ini. Pada masa Orde Baru, menurut Franky, kedua pohon ini masih berdempetan atau berdampingan secara dekat, sehingga memungkinkan untuk menunggangi pohon pop untuk menyuarakan perlawanan. Sekarang ini situasinya sudah berbeda, pohon musik pop dan musik perlawanan sudah terpisah sangat jauh, sehingga kita harus memilih secara tegas; bermusik untuk menciptakan uang atau bermusik untuk menciptakan sejarah.

Disamping itu, menurutnya, pemusik harus bisa mengikuti perkembangan keadaan dan mengerti bagaimana cara membaca keadaan. Dia mencontohkan, lagu "darah juang" sangat cocok pada masa kediktatoran, situasi senyap, namun sekarang kurang tepat. Sekarang ini, menurutnya, kita memerlukan musik yang menghentak, yang membangkitkan rakyat dari tidurnya. "Anda adalah tempe, daging, tahu, sayur, tetapi akan menjadi hambar rasanya kalau tak ada bumbu. Dan seni adalah bumbu," ujarnya.

Seorang seniman, pada akhirnya, harus membuat lagu berdasarkan fikiran rakyat, bukan membuat lagu berdasarkan fikiran subjektif. Rakyat harus menangkap dari nada dan lirik lagu itu, bahwa "its our problem, its my song". Liriknya harus mudah dipahami oleh rakyat, membekas dan terpatri dalam sanubarinya, dan pemilihan katanya harus memiliki energi yang kuat.

Tidak berbeda jauh dengan Franky Sahilatua, Ras Muhamad juga menegaskan pilihan pada musik perlawanan, dan konsekuensi dari pilihan itu adalah bermain di wilayah musik indie dan kalangan akar rumput.

Sedangkan Cholil dari Efek Rumah Kaca, ketika diperhadapkan pada pilihan, menilai bahwa yang terpenting adalah bagaimana berfikir secara realistis dalam menunggangi industri untuk menjangkau massa luas. Baginya, karena cakupannya sangat luas, maka untuk sampai kepada musik perlawanan pun memerlukan tahapan; menggelitik, ingin tahu, menyadari, dan mulai berfikir bagaimana mengubah keadaan.

Musik adalah awal yang baik dalam menciptakan bentuk politik yang relevan bagi kaum muda. Karena mau diabdikan kepada revolusi yang bersifat jangka panjang dan masa depan, maka musik harus terorganisasikan dengan baik.

*) Penulis adalah anggota Redaksi Berdikari Online.

Continue Reading...

Rabu, 20 Januari 2010

JAKER Kumpulkan Seniman Progressif Untuk Ngobrol Seni Perlawanan

JAKARTA, Berdikari Online- Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) kembali menggelar "Reboan Seni" untuk mendiskusikan keberadaan seni dalam perjuangan pembebasan nasional, Rabu (20/1), sore nanti. Hadir dalam diskusi ini sejumlah seniman dan musisi progressif yang sudah pernah berada di jalur mainstream, namun tetap berpegang teguh kepada prinsip dan jiwa bermusik mereka, seperti Cholil (Efek Rumah Kaca), Ras Muhamad, Franky Sahilatua. Hadir juga baladis Rizal Abdulhadi. Selain itu, untuk mempertajam diskusi ini, Jaker menghadirkan penulis buku "Anti Musik Ngak Ngik Ngok; Soekarno Membabat Seni Budaya Imperialis", Nurani Soyomukti. Dia akan memberikan analisa mengenai perkembangan musik kontemporer dan hubungannya dengan strategi kebudayaan anti-imperialis. Menurut ketua Umum JAKER Tejo Priyono, diskusi ini merupakan ajang untuk mempertemukan pemusik progressive, mencari kesamaan pandangan mereka dalam perjuangan, hingga kemungkinan membangun front seniman progressive. (*/) Di Posting dari Berdikari Online
Continue Reading...

Selasa, 22 Desember 2009

Puisi Untuk Ibuku dan Sarinah Indonesia

Gelap dan angin malam menyapaku
Menyinggung daun telinga dan menitipkan pesan
Mengantarkan ingatan
Pada masa lampau

Bayi kecil yang menyusahkan
Pagi menangis, malam pun menangis
Sedikit saja perempuan itu bergeser
Kau pun segera melolong seperti anjing di malam hari

Perempuan itu
Orang pertama yang kukenal di kehidupanku
Entah kenapa dia tak mengenal capek dan letih
Kesabarannya seolah tak mengenal batas

Tak pernah kulihat marah di wajahnya
Begitu tulus dan jujur hati dan jiwanya
Tak pernah minta tanda jasa dari siapapun

Tak bisa kulupakan
Dia adalah guru pertama dan terbaik bagiku

Begitu banyak pejuang, tetapi engkau pejuang tertinggi
Engkaulah yang melahirkan pejuang-pejuang
Engkau yang mendidik para pejuang

Ibuku, aku sangat malu menulis ungkapan terima kasih
Apalagi pada lembaran sempit ini
Pengorbananmu adalah samudera luas tak mengenal ujung

Selamat hari ibu kepada ibuku dan ibu-ibu Indonesia
Sarinah-sarinah pejuang tak ada bandingannya.

Tebet, 22 Desember 2009

Puisi ini di tulis oleh Rudi Hartono yang di persembahkan untuk para ibu-ibu di indonesia dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh tanggal 22 desember 2009
Continue Reading...

Selasa, 01 Desember 2009

Ras Muhamad, duta reggae Indonesia: Love peace, tapi bagaimana bisa damai tanpa keadilan*)

Oleh: Iwan Komindo**)

Jakarta (Berdikari Online) - Reggae bukan sekedar genre musik. Lebih daripada itu, dia adalah alat perjuangan yang mengusung budaya pembebasan, kesataraan manusia dan keadilan. Gerbong ini tumbuh dari pergerakan rakyat miskin.

Setidaknya begitu kata Ras Muhammad, duta reggae Indonesia saat berbincang dengan saya, di sekretariat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, belum lama ini. Lho, ada ya duta reggae?

Anda tentu acapkali mendengar tentang artis yang didaulat menjadi duta narkoba seperti Slank, Sandra Dewi, Kuburan Band, Olivia Zalianty dan lain sebagainya. Tapi mungkin agak terheran-heran mendengar tentang duta reggae.

Bicara reggae tentu tak lepas dari Bob Marley. Lagu-lagunya melegenda dan dikenal orang dari zaman ke zaman. Lirik lagunya berkutat seputar kritikan terhadap penjajah, perjuangan kaum tertindas dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sama halnya dengan Bob Marley, buah karya Ras Muhamad juga demikian adanya. Coba simak lagu berjudul Burder to Bear dalam album terbarunya yang bertajuk Next Chapter berikut ini:

Makna hidup bukan sebatas mencari kemewahan/menambah kekayaan/karena harta tak menjamin kebahagian/tak menjamin hati tetap tentram/tak menjamin hidup selalu senang/tetaplah melangkah/teruslah melangkah/hentakkan kaki biar jejakmu membekas di muka bumi.

Bunuh diri kelas

Anak semata wayang dari pasangan Wening dan Rivaiini lahir di Jakarta 29 Okober 1982. Orang tua memberinya nama Muhammad Egar. Nama Ras Muhamad sendiri didapatnya di Brooklyn, sewaktu mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam.

"Di Brooklyn, teman-teman memanggil saya Ras. Karena nama asli saya sulit dieja dalam bahasa sehari-hari di sana. Dalam bahasa Jamaika, Ras itu artinya Bung. Seperti Soekarno yang dipanggil Bung Karno di Indonesia," urainya.

Ayahnya seorang dokter akupuntur dan ibunya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Luar Negeri (Deplu). Tahun1993, sang ibu ditugaskan ke Amerika sebagai diplomat Indonesia di bidang ekonomi. Di saat bersamaan Ras baru saja menamatkan pendidikan di SD Harapan Ibu Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Selama di USA, bersama ibunya, Ras tinggal di New York. Dia melanjutkan sekolah di Russell Sage Junior High School dan lulus tahun 1996 kemudian masuk Forest Hills High School (setara SMA) lulus 1999.

Sebelum lulus, tahun 1997 masa tugas ibunya di USA berakhir dan harus pulang ke tanah air. Ras tidak ikut, dia menetap di USA dan tinggal bersama pamannya dan kemudian indekos bersama kawan-kawan.

"Study saya sempat break sebentar karena saya bekerja. Macam-macam yang saya kerjakan untuk mendapatkan uang. Semisal mengantar makanan dan lain sebagainya. Kadangkala juga performance street-ngamen bareng anak-anak Brooklyn," kenangnya.

Tahun 2001, untuk memperdalam dan mengasah bakat seni dalam dirinya, Ras kuliah di jurusan Liberal Arts, Borough of Manhattan Commlonity College, setara D3.

Karena rutinitasnya berkesenian dan nongkrong di Broklyn, kuliah yang semestinya tamat 3 tahun, diselesaikan dalam waktu empat tahun. Tahun 2005 dia lulus dan langsung pulang ke Indonesia.

Sebagai orang yang secara ekonomi terbilang berpunya, Ras melakukan bunuh diri kelas. Dalam kemapanan, hatinya tergetar melihat ketidakadilan. Pengagum Bung Karno ini miris melihat kesenjangan sosial ketika langgengnya sistem di mana ada manusia menindas manusia lainnya.

"Reggae itu cinta damai. Love peace! Tapibagaimana bisa damai kalau tidak ada keadilan."

Dalam perbincangan kami, Ras seringkali mengutip kata-kata Sang Proklamator. Begitu ditanya sejak kapan mempelajari Soekarnoisme, dia memberi jawaban yang cukup mencenangkan, "Semakin saya mengenal reggae semakin saya mengenal Bung Karno," tandasnya.

Ras menjelaskan, Ideologi Rastafari dan ajaran Bung Karno tak ada perbedaan. Sama-sama menyatakan; kita bukan bangsa budak,bukan bangsa kuli. Rastafari selalu menyerukan perlawanan terhadap kaum babilon. Babilon sebutan untuk kaum kapitalisme dan imprealisme.

Seraya menghisap rokok dan mengepulkan asap kelangit, Ras menyenandungkan salah satu lirik Bob Marley yang dalam bahasa Indonesia artinya; jika kau adalah pohon yang besar kami adalah kapak-kapak kecil dan kami siap menumbangkanmu. "Konteks lagu ini sama persis dengan gagasan Bung Karno yang memprakarsai Konfrensi Asia Afrika."

Tidak sekadar berteori, anak muda berambut gimbal ini turun ke jalan melebur bersama kaum pergerakan kerakyatan melawan penindasan dan ketidakadilan.

Baru-baru ini dia menggelar konser amal bersama Rizal Abdul Hadi, seniman Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) di SMA 4 Pematang Siantar, Sumatera Utara tanpa dibayar. Sekolah itu diruislag untuk dibangun hotel. Para murid melawan meski bangku serta meja belajarnya disita pemerintah. Dana dari konser itu untuk membeli bangku, meja dan perkakas sekolah lainnya.

Tidak sampai di situ, bersama Happy Salma, SujiwoTejo dan budayawan pro rakyat lainnya, Ras juga kerap tampil di panggung seni anti korupsi yang dihelat di jalaman gedung KPK setiap malam minggu.

Tiga album

Ras mengenal Reggae di Amerika, tepatnya di Broklyn. Mulanya dia tergoda dengan Dancehall, nafas tradisional reggae yangmenyampaikan pesan-pesan spiritual Rastafari yang dimainkan kawan-kawan asaldari Karibia dan Jamaika. "Pesan-pesan spiritual Rastafari itu mirip sekalidengan nilai-nilai yang diusung Bung Karno."

Dijelaskan Ras, musik reggae itu awalnya dancehall, kemudian berkembang menjadi ska lalu roots seperti dendangan Bob Marley. Tidak sekadar musiknya, Ras juga mendalami sejarah, perkembangan dan ideologi reggae. Di Tahun 1999 rambutnya digimbal hingga hari ini.

Tak ayal jika dia berkata semakin mengenal reggae semakin mengenal Bung Karno. Pasalnya, selain banyak persamaan dengan pemikiran Bung Karno, Haile Selassie, selaku tokoh pemimpin Rastafari secara kebetulan lahir tanggal 17 Agustus. Tanggalnya mirip dengan hari kemerdekaan Indonesia.

Hingga hari ini Ras, telah melahirkan 3 album. Album pertamanya, Declaration of Truths (10 lagu) yang digubah tahun 2005 sewaktu masih di Broklyn. Album indie ini beredar di New York. Album kedua Reggae Ambassador (15 lagu) yang dirilis Januari 2007 di Indonesia juga secara Indie. Album ketiga Next Chapter yang baru saja dirilis.

Sejak menelorkan album Reggae Ambasador yang dalam bahasa Indonesia artinya duta reggae, sejak itupula gelar duta reggae melekat di dirinya.

Terkait ini dia berkomentar, "Reggae bukan sesuatu yang dianggap oleh pemerintah dan tidak ada yang mungkin melantik duta reggae kayak duta narkoba, misalnya. Siapapun yang suka music reggae, paham dengan pergerakan reggae yang anti penindasan adalah juga duta reggae."
*) Tulisan sejenis perah dimuat di Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 28 November 2009 **) Pemerhati seni dan bekerja sebagai jurnalis.
Continue Reading...

Manu Chao: Pemusik Sederhana dan Pejuang Revolusioner

Rudi Hartono

Manu Chao adalah superstar dan pemusik terkenal, bukan saja di daratan eropa, tetapi juga di amerika latin, sebagian asia, dan afrika. Kehadirannya dalam dunia musik dipersamakan dengan legenda reggae asal Jamaika, Bob Marley. Kecuali itu, ia juga dianggap tokoh penting dalam mengubah kegiatan bermusik menjadi bagian dari gerakan anti globalisasi, persis seperti ketika Bob Dylan menjadi musik sebagai alat perdamaian dan persamaan hak-hak kaum sipil pada tahun 1960-an.

Manu Chao adalah selebriti terkenal, tapi rendah hati. Ia telah bermain di depan 100.000 di Zocalo, yang merupakan lapangan terbesar di Meksiko city. dia juga mendapat sanjungan 90.000 penonton di festival Coachella di Calfornia pada bulan april, dimana ia tampil setelah band Rage Againts The Machine. Dan di Glastonbury, ia benar-benar mengguncang penonton dengan lagu-lagunya; A Cosa, Clandestino, Tristeza Maleza, La primavera, radio bemba, dan lain-lain.

Album solonya yang pertama, clandestino (1998), yang dibuat pada sebuah studio kecil, ternyata terjual 2,5 juta di Perancis. Tahun 2001, ia kembali merilis album kedua, Esperanza, pada tahun 2001, dimana ia kembali mendapat pujian dan dukungan dari banyak penggemar. Manu Chao di ulas dihalaman depan wall-street journal pada saat itu.

Tiap hari, radio-radio kenamaan di eropa dibanjiri oleh request lagu-lagu Manu Chao. Pada tahun 2005, album radio bemba soundsystem mendapat penghargaan sebagai album terbaik pada tahun itu oleh Rollin Stone, MOJO, SPIN, Blender, National Public Radio dan sebagainya.

Kehidupan Politik
Dilahirkan di Spanyol, 21 juni 1961, dari seorang ayah Galisia dan ibunya yang Basque. Ketika masih kecil, manu (sapaan akrabnya) harus menyertai ayah dan ibunya yang pergi ke perancis untuk menghindari kediktatoran Fransisco Franco. Di perancis, Manu berkenalan dengan kemiskinan dan diskriminasi ekonomi, bersama dengan kaum imigran lainnya. Manu dibesarkan di pinggiran kota Paris, yaitu di Boulogne-Billancourt. Setiap sore, ia selalu bermain bola bersama anak-anak pekerja dari pabrik Renault.

Manu Chao bermain musik sambil berpolitik. Ia mengatakan; “musik adalah ekspresi, dan politik adalah bagian dari kehidupan saya”. “ayah dan ibu saya adalah seorang aktifis, dan sejak kecil saya mengetahui hal itu” ungkap Manu Chao. Kehidupan sebagai pelarian politik, membuat manu dan keluarganya harus berpindah-pindah dari kota yang satu ke kota yang lain.

Pada tahun 1980-an, pada saat masih bersama bandnya “manu negra”, ia dianjurkan melakukan tur ke Amerika Serikat. Tetapi, bukannya berlayar ke Amerika Serikat, malah berlayar ke Amerika Selatan dan bermain musik pada setiap pelabuhan yang dijumpainya. Pada tahun 1993, Manu Negra kembali ke Amerika latin. Di sana, manu negra membeli sebuah kereta tua dan berkeliling Kolombia, dimana ia berjumpa dengan gerilyawan bersenjata, petani, dan penjual obat. Pengalaman itu benar-benar mempengaruhi kesadaran politiknya. Ia makin politis dan membenci neokolonialisme.

Pada bulan maret 2006, Manu Chao tampil memukau membakar semangat anti-imperialisme rakyat Kuba, ketika ia tampil pada konser tunggal di Plaza Jose’ Marti, Havana, Kuba. Ia memulai lagunya dengan orasi pembuka; “gelorakan revolusi kuba, death yankee!”. Ia juga menyatakan solidaritas dan dukungannya kepada rakyat Kuba dan presiden Fidel Castro, yang telah dengan gagah berani menghadapi blockade imperialisme AS. Setelah itu, ia melanjutkan tour Amerika Latinnya ke Caracas, Venezuela, dimana ia bertemu dan belajar proses revolusioner dari tangan pertama, Hugo Chavez. Dia juga melanjutkan tournya Ke Bolivia, dimana Evo Morales telah menunggunya.

Dalam sebuah wawancara yang termuat di Radiochango, Manu jelas menghargai politik Chaves yang berani memutus hubungan dengan AS, bahkan melawannya. Dia sangat menyimak detik-detik kudeta terhadap Chaves, dan actor utama dari kudeta adalah AS. Terhadap gerakan ETA, meskipun orang ibunya adalah seorang Basque, ia tidak terlalu mendukung ide-ide negara berdiri sendiri, tetapi jelas ia mengutuk kekerasan dan penindasan di sana.

Manu Chao sangat kagum pada EZLN (Zapatista), karena meskipun gerakannya adalah bersenjata, tetapi lebih mendahulukan jalan damai. Dalam sebuah perjalanan ke pedalaman Chiapas, Manu Chao bernyanyi ditengah-tengah orang yang sedang memanggul senjata. Terhadap hal itu, ia mengatakan; “Anda tidak bisa melawan teror dengan teror, atau kekerasan dengan kekerasan. Kekerasan hanya bisa dilawan dengan menyediakan pendidikan, pangan, dan saling pengertian yang baik.”

Manu Chao bukan hanya mengeritik kapitalisme melalui lirik lagunya. Manu chao bergabung dalam demonstrasi di Genoa dan Barcelona. Dalam demonstrasi genoa, manu bergabung dengan 300.000 orang penentang kapitalisme. Bahkan, ia menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana polisi melancarkan kekerasan terhadap para demonstran. Dia juga bernyanyi dalam pertemuan para aktifis di Forum Sosial Dunia(WSF), di Porto Allegre, dimana ia mengeritik bush dengan sangat pedas.

Banyak di antara lagunya bercerita tentang realitas penindasan. Rainin' in Paradise (Hujan di Nirwana), misalnya, mengkritik tajam pemerintah Amerika Serikat atas berbagai tragedi yang terjadi di Zaire, Kongo, Irak, Palestina, sampai di Kolombia. Demikian halnya lagu Clandestino (Bawah Tanah), La Primavera (Musim Semi), dan Politik Kills (Politik yang Membunuh), menggambarkan sikap politiknya.

Kesederhanaan
Meski masuk dalam deret selebriti dunia, manu chao tetap merendah. Bahkan, ia menolak musiknya diberi label “musik dunia” oleh BBC. Baginya, itu merupakan salah satu strategi neo-kolonialisme Inggris dan AS untuk menandai musisi dari luar dunia berbahasa inggris.

Dibalik kesederhanaanya, terutama bagi penggemarnya, nama Manu Chao terus melejit. Selain bermain musik diatas panggung dan studio, Manu dapat bermain musik dimana saja, kapan saja, dan dengan peralatan seadanya. Kadang ia bermain musik di kafe, di jalanan, di toko, di jalanan, di rumah-rumah warga, bahkan di perkampungan orang-orang miskin.

Mengenai pembajakan, yang paling ditentang keras oleh pemusik professional dan papan atas, manu malah tidak mempersoalkannya. Malah, lagu-lagunya dalam bentuk audio dan video disebar di internet dan dapat dicopy secara bebas. Ia juga tidak mempermasalahkan lagu-lagunya digandakan orang, tanpa perlu menyetorkan sejumlah uang. Manu lebih senang lagunya dinikmati orang, dihargai, dan jadi inspirasi, ketimbang tersimpan dalam studio, industry-industri musik, dan pusat-pusat penjualan kaset.

Dalam hal penjualan CD-CD-nya, manu berjuang keras agar tidak dikendalikan pasar. Anda dapat mengontrol label, tetapi tidak pada masalah distribusi. Manu berjuang keras agar CD nya dijual murah dan melalui proses sirkulasi yang alami. “kami menurunkan harga CD hingga 500 pesetas (mata uang spanyol)”; kata manu. Kami tidak mementingkan royalti, tetapi seluruh rakyat dapat membeli, itu yang terpenting.

The Clash dan Bob Marley sangat mempengaruhinya. Keduanya adalah pemusik dan juga aktifis politik yang radikal. Ia mengakui pengaruh The Clash pada albumnya, Bongo Bong. Sedangkan untuk penghargaannya kepada Bob Marley, ia menuliskan sebuah lagu berjudul “Mr. Bobby”.

Ia benar-benar mengagumi Diego Armando Maradona, pelatih tim nasional Argentina. Ketika itu, manu muda sempat membuat lagu berjudul “santa maradona”, ketika maradona muda menjadi pahlawan argentina dengan gol tangan tuhannya. Sekarang, dalam album La radiolina, ia mempersembahkan lagu “La Vida Tombola”, khusus untuk penghargaan kepada legenda sepak bola dunia tersebut. Seperti diketahui, Maradona bersama Chaves memimpin aksi puluhan ribu orang menentang FTAA dan kedatangan Bush ke Argentina, pada tahun 2003.

Lagu-lagu Manu juga menggambarkan budaya sehari-hari kaum yang terpinggirkan. Seperti pada hits Minha Galera (Orang-orangku) yang berirama pelan, Manu Chao angkat cerita tentang kerinduan pada kampung halaman, pada kawan-kawan penggemar sepak bola, pada musik daerah, gubuk-gubuk, tarian capoera, pada minuman khas daerah, dan pada asap marijuana. Dalam lagu yang lain, ia tuturkan ketertindasan dan harapan masa depan para pelacur. Lagu berjudul Me Llaman Calle (Aku Dipanggil Jalanan) ini diilhami kehidupan perempuan penghibur di sekitar kafe tongkrongannya, di Barcelona.

Ketika tampil di Brocklyn, dihadapan puluhan ribu penonton, Manu berkali-kali mengulang kata “Corazon”, yang berarti hati, dan meletakkan mikrofon di dadanya. Ia kemudian berkata; sebentar lagi sebuah badai akan datang. Dan tiba-tiba, benar saja, sebuah petir menyambar dan sejumlah peralatan panggung. Manu lantas bernyani Proxima estacion Esperanza'; “ hujan berfungsi sebagai perwujudan harapan, yaitu harapan pada politik negeri yang lebih bermartabat, hari depan yang lebih baik, dan hari depan dimana musik bukan lagi sekadar barang dagangan”.

Politik Kills (Politik Yang Membunuh)
Berbicara mengenai pandangan politik, manu mengatakan; sebelum berbicara mengenai aktifisme, maka setiap orang di dunia ini bertindak atas nama kejujuran, sehingga mereka dapat melangkah dengan baik. Itu juga kupelajari dari kakekku. Akan tetapi, kejujuran tidak dapat membawa anda lebih jauh, karena problem kehidupan cukup banyak dan beragam. Jadi kejujuran saja tidak cukup, anda harus berbuat lebih banyak.

Politik kills adalah lagu yang dibuat untuk melawan politik kebohongan dan pembodohan. Ia jelas menentang politik uang. Menurutnya, masalah terbesar dalam politik adalah uang. Kekuatan ekonomi lebih berkuasa dibandingkan politik itu sendiri. ini bukan demokrasi. Demokrasi telah dikendalikan oleh media.

Di Italia, Berlusconi memenangkan pemilihan presiden karena ia mengendalikan media terbesar. Demikian pula di Perancis, dimana Sarkozy memiliki tipe yang sama dengan Berlusconi. Manu menganggap mereka menang karena politik uang, politik kebohongan, dan pembodohan.

“akhirnya, makin orang yang tidak percaya dengan demokrasi, dan itu sangat berbahaya. Saya adalah seorang demokrat” ungkap Manu. Kita harus bertindak seminimal apapun, terutama untuk menggeser politisi yang dibesarkan oleh uang dan televisi. “ saya akan bersuara dengan mikrofon di tangan saya” demikian manu menjelaskan.

“anda tidak tidak dapat mengubah dunia. Saya pun tidak bisa mengubah dunia sendirian. Saya mungkin tidak dapat mengubah sebuah negara, tetapi saya dapat mengubah sebuah lingkungan kecil. Saya mencoba. Dan saya rasa, itu merupakan tanggung jawab semua orang. Saya tidak yakin sebuah revolusi besar akan datang dan mengubah segalanya seketika. Tetapi, saya percaya bahwa revolusi-revolusi kecil dapat mengubah segalanya dengan perlahan-lahan, setidaknya dilingkungan kita
Continue Reading...

Selasa, 13 Oktober 2009

Aku Harus Sekolah

Dua hari lagi
Aku masuk sekolah
Setelah dua tahun kumpul biaya
Lusa aku jadi siswa SMA
Emak bilang
Uang pangkal kurang
Masih ngutang sama sekolah

Hari ini bapak tak pulang
cari pinjaman utang
Buat beli celana, baju, tas, buku dan sepatuku

Sekarang susah cari uang
Tau kau kenapa
Barang rongsok yang biasa kita pulung
Harganya terus turun

Kata Pak Haji Amat
Bandar pemulung dikampung sebelah
Krisis gobal penyebabnya
Diberita ada pemulung demonstrasi
Nentang limbah asing masuk ke negeri ini
Tapi menteri perdagangan malah memberi ijin

Mak,….
Presiden pernah bilang
Sekolah gratis..tis..tis..
Kenapa sekolahku harus ngutang

Emak pernah tanya
Kepala sekolah ngomong ini swasta
Tak ada bantuan pemerentah
Kalaupun ada cuma SD dan SMP
Presiden bohongi kita nak

Aku mau sekolah
Walau celana pinjam tetangga
Aku harus sekolah
Supaya kelak bisa lawan presiden mak

Jakarta, 23 Juli 2009
Dika Mohammad
Aktif di Dept. Kajian, Informasi dan Komunikasi DPN-SRMI
Koordinator Taman Bacaan Rakyat Kolong Tol Penjaringan
Continue Reading...

Minggu, 11 Oktober 2009

Peringatan


selamat datang para terhormat//wakil wakil rakyat//rakyat yang mana yang diwakili//miskin atau kaya//buruh atau pengusaha//kursi kursi dipersiapkan//bayaranmu menjanjikan//janjimu dinantikan//janji pada penyokong dana kampanye//janji rakyat urusan gampang//janji palsu sudah budaya//
inilah mereka yang berjanji//bersumpah dengan kitab sucinya sendiri//lalu beberapa mengikari//perkaya diri, korupsi//penjajah atau bangsa sendiri//punya uang jadi kawan//yang miskin diperjual belikan//punya birahi tanpa kendali//
rakyat jelata dari mahkamah jalanan//selubung penipuan kan terbongkar//kalian yang tertidur dalam sidang//lihat mata ini mengawasi,jangan macam-macam//ratusan jiwa menitip pesan dalam saku safari uang negara//kalian dibayar dari keringat kuli-kuli kasar//
peringatan//risau pada perut-perut kosong//amarah adalah bom waktu//jika langkah mulai membelot//tidak ada lagi tawar menawar//harga mati parlemen kami ambil alih//
inu okt 09
Continue Reading...

Sabtu, 26 September 2009

September Kelabu

(Untuk Eyang Tarni)
Gayatri Wedotami

Empat belas tahun sebelum aku lahir
Perempuan itu nenekku
Duduk mengusap-usap perutnya
Ratap tangisnya tertelan desah angin malam
Sementara jabang bayinya terlelap
Di tengah malam kelam suaminya lenyap

Siapa yang mencuri malam pengantinnya?

Dahan-dahan besi menjadi saksi
Bidadari ketujuhnya terlahir ke bumi
Pelangit terbit di ujung langit-langit
Nenekku berhenti menangis
Air matanya telah menjadi embun pagi

Empat belas tahun setelah aku bertemu dia

Di kelas sejarah kami mengenal suaminya
Tapi siapa yang mengenal nenekku
Di pelaminan mereka yang singkat
Enam cahaya mata telah menerangi rumah mereka
Mungkinkah sempat untuk menjahit bendera merah,
mengukir palu, mengasah arit?
Siapa yang menyusui, siapa yang memasak di rumah?

Di kelas sejarah kami tidak mengenalnya
Perempuan itu nenekku
Mendekam dalam bilik muram
Tujuh malaikatnya bagai terbang ke langit
Kesetiaannya dinilai nista
ketika suaminya dicap keji

Di kelas sejarah kami mencatat nama suaminya
Tapi namanya tak pernah ada
Ada yang membakar buku-buku
tentang mereka yang kembali dari Rusia
tentang mereka yang mengirim revolusi dari Cina
Ada yang membela mereka
diam-diam menyebarkan wangi parfum Karl Marx
sebab merekalah rakyat miskin mencium wangi surga dunia
Tapi siapa yang bisa mengembalikan masa mudanya?
perempuan itu nenekku
putri bangsawan yang tak pernah kaukenal
tirai-tirai batu telah mengikis wajah rupawannya
sumpah serapah telah menggerus gairahnya
najis darah telah menenggelamkan tubuh eloknya
bilik pengap itu telah menghisap kebahagiaannya
namun, masih tersisa setetes derai tawanya
mengguyur gersang gurun lampau, membungakan padang esok lusa
Di kelas sejarah kami berdebat
tentang siapa yang terkutuk, siapa yang pantas mengutuk

Tapi, nenekku
Hari itu menari dan menyanyi lagi
rambutnya yang telah memutih seperti salju yang menutupi masa lalunya
bayang-bayang suaminya telah terbakar cahaya terik matahari
seulas senyum memenggal semua kesedihan
Septemberku adalah musim semi – mawar merah berseri-seri
Septembermu adalah badai salju – langit dan bumi kelabu

Kami
sibuk mencerca dan mencacimaki
mesin waktu bahkan tak punya
menerawang masa lalu bahkan hanya mimpi
mencoba menerobos kabut hitam pekat di lorong waktu
menggali mayat-mayat yang tak ingin diusik lagi
berkelahi menentukan siapa yang paling berani menulis nama musuh
dan kau, nenekku, pelukanmu
cairkan kebekuan masa silam
sejarah bagimu, sejarah bagiku, seperti empat musim
saling berebut mencuri kenangan dan pujian
namun kau,
mawar di kebun zamanku
meski seribu tahun merana
merahmu kekal merona

Dusta dan fakta
berkelindan
memberangus cinta

Kami sejarawan,
kamilah yang terkutuk.

September, 2009.

Gayatri Wedotami, alumni sejarah Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.
Continue Reading...

Sabtu, 19 September 2009

Mengenang WS Rendra; Kita Mesti Merumuskan

BERDIKARI ONLINE, Jakarta: Pada Kamis malam, sekitar 22.30 WIB, di rumah sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, salah satu penyair besar Indonesia, WS Rendra, menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Si Burung Merak, demikian orang banyak menyebutnya, adalah seniman yang berdiri di tiga jaman; Soekarno, Orde baru, dan Era Neoliberalisme. Selama itu pula, seperti yang diakui oleh banyak orang, dia tetap konsisten berdiri di sisi mereka yang lemah, berpihak kepada rakyat.

Ketika Orde Baru berkuasa, Ia ikut dalam gerakan perlawanan mahasiswa. Beberapa puisinya, seperti "Sajak Sebatang Lisong" dan "Aku Tulis Famplet Ini", sengaja didedikasikan bagi perjuangan tersebut. Tak pelak, karena posisi politik dari karya-karyanya yang menentang kekuasaan orde baru, banyak karnyanya yang akhirnya dilarang penguasa, diantaranya "Mastodon dan Burung Kondor".

Puisi-puisi rendra selalu mendengun ketika di bacakan di aksi-aksi mahasiswa. Selain itu, ketika sejumlah aktifis di tahan rejim orde baru, diantaranya Rizal Ramli, Indro Tjahyono, dan Herry Akhmadi, puisi-puisi terbukti sanggup mengobarkan semangat perlawanan mereka.

Di depan mahasiswa UI Salemba, tahun 1977, dia membacakan puisi berjudul "sajak pertemuan mahasiswa", untuk mengobarkan perlawanan mahasiswa menentang kekuasaan orde baru. Bagi Rendra, kekuasaan orde baru bukan hanya meminggirkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia, tapi juga menciptakan jaring laba-laba yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat. Dia berkata;

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,

maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.

Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Setelah kejatuhan orde baru, sebuah kebebasan terbatas akhirnya diperkenankan oleh penguasa baru. Seperti kita ketahui, perubahan terbatas ini tidak segera mengubah keadaan 200 juta rakyat kita. Malahan, di bawah pemerintahan baru ini, sebuah kediktatoran baru hendak ditegakkan, yakni kekuasaan segelintir pemodal atas nasib mayoritas manusia.

Dia sadar betul bahwa penguasa baru, yang bertangan neoliberal, tidak kalah jahat dibanding dengan kekuasaan orde baru, sebelumnya. Untuk itu, dia kembali mengobarkan "nasionalisme dan kemandirian ekonomi", sebagai jalan mengakhiri penindasan neoliberal.

Di sinilah kehebatan Rendra, yang mungkin tidak dimiliki seniman-seniman di angkatannya. Para seniman salon, mengutip rendra, mencoba menjauhkan realitas dan keadaan real dari karya-karyanya, sambil memuja-muja "kebebasan bereskpresi" yang semu. Sejak awal, rendra menyadari bahwa karyanya tidak bisa terlepas dari politik, dan, tentu saja, sebuah keberpihakan. Menganenai hal ini, Rendra mengatakan;

Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur, Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita mesti mengenali keadaan, demikian kata Rendra, sebagai pisau analisa untuk mengamati persoalan yang nyata, dan, nantinya, untuk menentukan sikap.

Dulu, tahun 1970-an, ada 8 juta kanak-kanak yang tidak dapat dididik (baca, sekolah) oleh rejim orde baru. Sekarang ini, di bawah SBY, ada 13 juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Dan, seperti dikutip Kompas, ada 60% lulusan universitas yang menganggur alias tidak mendapat pekerjaan. Persoalan-persoalan inilah yang diamati rendra, sehingga dia bisa merumuskan sikap.

Penjajahan asing merupakan pangkal dari segala persoalan bangsa ini, demikian kata Rendra. Metode pembangunan nasional sekarang ini, dianggap oleh Rendra masih meniru gaya kolonial dan penjajah asing, bukan menggali kebudayaan dan kepribadian bangsa sendiri. "Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing," ujarnya.

Dia pun lebih bangga kepada Kajaoladido, negarawan besar bangsa bugis, ketimbang ajarang Montesque ataupun code Napoleon.

Neoliberalisme adalah rumus asing. Sistim ini berbasiskan kepada keserakahan dan prinsip kemakmuran bagi segelintir orang. Sayangnya, pemerintahan SBY masih setiap menjadi murid sejati dari rumus asing ini, bersama dengan beberapa teknokrat didikan barat, diantaranya Budiono, Sri Mulyani, dan sebagainya.

"Kita harus merebut kemerdekaan itu lagi," Ujar rendra. Di sela-sela tumpukan sampah Bantar Gebang, Bekasi, WS Rendra membacakan puisi heroik Chairil Anwar, Karawang Bekasi. Di akhir pembacaan puisinya, dia berteriak lantang; "lawan kekuasaan asing".

Rendra memang kokoh berdiri dengan sikapnya. Sementara itu, banyak seniman salon akhirnya memilih berada satu gerbong di belakang neoliberalisme.

Kita boleh berbeda pandangan soal pilihan politiknya, karena dia, akhirnya, mendukung pasangan Megawati-Prabowo. Tapi, untuk persoalan itu, dia sendiri punya alasan yang yang cukup rasional, dan tepat. Menurutnya, dia mendukung Mega-pro karena kesamaan sikap, yakni sama-sama melawan dominasi asing (baca, imperialisme).

Iya, benar. Sekarang ini, ancaman nyata terhadap kehidupan rakyat bukan lagi "jaring laba-laba" yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat, tapi sebuah sistim ekonomi yang melegitimasi dominasi asing.

WS Rendra telah mengenalkan sebuah metode canggih: mengenali keadaan. Mungkin, metode ini bukan temuannya, tapi, untuk di Indonesia, dia mungkin satu-satunya seniman yang bisa mempergunakan metode ini dengan baik. Karena metode ini pula, dia tidak pernah berhenti untuk berjuang terhadap kungkungan keadaan. Tidak heran, sejarahwan A Teeuw dalam kata pengantar buku potret pembangunan, menyebut Rendra sebagai pemberontak, seseorang yang selalu sibuk melonggarkan kungkungan dan keadaan.

RUDI HARTONO, Divisi Sastra Sanggar Satu Bumi, Redaksi berdikari Online.
Continue Reading...

Rabu, 16 September 2009

Rap Untuk Melawan

DI belakang kafe terbuka di Gaza pada larut malam, Khaled Harara dari Black Unit Band mulai bercakap soal rap.

Sebuah panggilan telepon menghentikan ceritanya. “Ya Tuhan, ini ayahku. Dia akan membunuhku jika aku tak segera pulang.” 

Sungguh tak ada citra keras seorang rapper.

Setelah meyakinkan ayahnya bahwa dia lagi diwawancara, dia dizinkan untuk tetap di sini.

Namun interupsi itu memperkuat keinginannya agar orang lebih paham: rap tak harus seperti yang dibuat pasar. “Kami ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa hip-hop bisa baik; ia tak harus soal seks dan obat-obatan. Kami mengembalikan rap ke akarnya, membicarakan isu-isu nyata.”

Kawannya, Ayman Mughames dari Palestinian Rapperz, bergabung dengannya.

“Ketika kami memulainya pada 2002, pesan kami adalah menunjukkan kehidupan sebenarnya di Palestina dan terutama di Gaza,” ujar Mughames. “Kami bicara tentang banyak hal, sesuatu yang harus dibicarakan: pendudukan Israel, pengepungan Gaza, perang Israel di Gaza, persatuan Palestina.

“Rap adalah cara kami melawan. Kami butuh orang-orang yang melawan bukan hanya dengan senjata tapi juga kata-kata.” 
Palestinian Rapperz menjadi generasi rapper “baru” seperti Harara Black Unit Band. Di bawah payung Palestinian Unit, kelompok yang sekarang terdiri atas Palestinian Rapperz, Black Unit, serta musisi pendukung dan penari kejang dari Water Band dan Camps Breakerz.

“Apa yang kami inginkan adalah Palestina bersatu,” ujar Mughames mewakili kelompok itu.

Harara dan Mughames membicarakan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi sebagai rapper di Gaza.

“Orang tak mengerti apa itu rap. Mereka pikir ini pengaruh negatif dari Barat, seolah kami melupakan budaya kami,” ujar Harara. “Namun kami menggabungkan tradisi Palestina dan patriotisme ke dalam rap. Inilah cara kami mendekati para pemuda di dalam maupun di luar Palestina.”

Mereka mengatakan, masalahnya terletak pada rapper lain di Gaza yang tak punya idealisme sama.

“Ada rapper yang jelek. Perilaku mereka buruk, sehingga membuat citra rap menjadi jelek,” ujar Harara. “Namun kami mencoba menunjukkan rap yang sebenarnya kepada para pemuda, dan bagaimana ia dipakai dalam kasus Palestina.”

Harara lalu menjelaskan aktivitas mereka bersama pemuda-pemuda Gaza.

“Baru-baru ini kami mendirikan sekolah hip-hop. Banyak generasi muda datang kepada kami dan bilang ‘kami ingin belajar rap’, karenanya kami membuka sekolah.” Mughames, merujuk sekolah-tua rapper di Gaza, berempati dengan manfaatnya.

“Ini baik untuk para pemuda. Mereka tak bisa melakukan apapun di Gaza. Kami mengajarkan mereka ketrampilan-ketrampilan kongkret: bagaimana membuat lirik yang bagus, mengatur lirik hingga tempo, mengatur suara… bagaimana menjadi rapper yang baik.”

Harara menambahkan, “Sekolah kami gratis. Dan ini benar-benar sangat penting, karena anak-anak ini bisa-bisa menjadi rapper yang buruk dan belajar ide-ide jelek.”

Berbeda dari anggapan umum bahwa banyak masalah mereka muncul akibat serangan Israel atas Gaza, yang dilakukan segera setelah Hamas terpilih pada awal 2006. kondisinya sudah membaik Juni 2007 setelah Hamas menguasai Gaza.

“Peralatan adalah masalah serius,” kata Mughames. “Jika kami mau konser, kami perlu speaker, mikrofon… dan tak mudah mendapatkannya di Gaza.”

“Hanya ada satu DJ yang benar-benar bagus di Gaza, dengan peralatan milik sendiri. Tarifnya sekitar 200-500 dolar sekali pentas. Kami tak mampu membayarnya.”

Membuat album juga tak mudah.

“Karena kami tak punya peralatan, dan studio rekaman terlalu mahal, kami mencoba membuat album yang sangat sederhana, menggunakan program mixer laptop dan merekamnya di rumah,” ujar Harara.

Jackie Reem Salloum, sutradara Palestina-Syiria yang berbasis di New York, memproduksi film dokumenter Slingshot Hip Hop tahun lalu, yang melibatkan artis-artis rap Palestina dan Israel, di antaranya Palestinian Rapperz.

“Ketika film Slingshot dirilis, kami mendapat undangan untuk menghadiri pembukaan. Kami mendapat visa, namun kami tak bisa keluar dari Gaza,” ujar Mughames.

Ada pembatasan di rumah juga. “Kami ingin pergi ke kamp-kamp orang yang kehilangan rumah karena serangan Israel. Kami ingin membuat konser untuk anak-anak yatim piatu,” ujar Harara.

Namun untuk saat ini, para rapper berkosentrasi pada apa yang sudah berjalan. “Kami tak bisa membuat konser, tak bisa meninggalkan Gaza. Kami dibatasi untuk melakukan apa yang kami inginkan. Karenanya kami fokus pada sekolah dan menciptakan banyak lagu,” ujar Harara.

Seperti sebuah lagi mengenai serangan Israel atas Gaza (“23 Days”), lagu-lagu patriotik (“My City”), dan juga lagu-lagu cinta (“Take Me Away”).

Banyak lagu diciptakan untuk menyatukan partai-partai di Palestina. Para rapper terus berbicara perlunya Palestina bersatu dan menghadapi musuh bersama: pendudukan Israel, pengepungan, dan pengingkaran atas hak-hak dasar.

Sebuah lagu mengalun: “Palestina maafkan aku / Aku tak bisa menghentikan semua orang yang menyerobotmu, memperdagangkanmu / Kamu layaknya supermarket, orang menjadi kian kaya karenamu.”

Semua lagu dalam bahasa Arab. “Ini bahasa kami dan kami bangga. Kami bisa mengekspresikan kehalusan dan nuansa dalam bahasa Arab yang tak mungkin kami lakukan dengan bahasa Inggris,” ujar Mughames.

Meski mengalami banyak keterbatasan, Palestinian Unit mampu tampil kini dan esok.

“Kami menggelar sebuah konser di Rachad Shawa [pusat kebudayaan Gaza] beberapa minggu lalu, yang disponsori Mercy Corps,” ujar Mughames. “Pengunjungnya beragam… pemuda, pemudi, bahkan orang-orang konservatif.”

“Ada sekira 6.000 orang, dan mereka tak tahu apa yang mereka harapkan,” ujar Harara. “Dan begitu kami mulai ngerap, mereka terkejut, karena kami ngerap serta ada permainan band dan penari kejang … Orang-orang pun terpesona.”

Pada Desember tahun ini, akan ada konvoi Viva Palestina karena masuknya bantuan kemanusiaan di Gaza. Mughames dan Harara berharap para rapper Palestina dari luar Gaza bergabung ikut konvoi.

“Kami akan membuat konser pada 1 Januari,” ujar Harara, penuh harap.[]

Sumber : beritaseni
Continue Reading...

Rabu, 09 September 2009

Kontrakan buruh kontrak(an)


dalam petak petak pengap..
malam nyamuk pagi lalat..
tidur bertumpuk..
beradu keringat..
dalam petak petak pengap..
masa depan terlupakan..
hari ini bayar esok berhutang..
sekarang karyawan bulan depan gelandangan..
dalam petak petak pengap..
kepada siapa harus percaya..
keberpihakan dipertanyakan..
buruh atau majikan..
dalam petak petak pengap..
kerja kontrak atau pengangguran..
bayar kontrakan atau kolong jembatan..
pabrik atau istana kita serang..


inu cilandak 200909
Continue Reading...

Selasa, 08 September 2009

PERJUANGAN KEBUDAYAAN DI BAWAH NEOLIBERALISME

Sebelum masuk ke tahap apa yang harus dilakukan dalam perjuangan kebudayaan di alam neoliberalisme ini, pertama, yang harus dipahami adalah kebudayaan tidak bisa lepas dari sistem ekonomi politik yang sedang berkuasa di satu negeri. Keduanya tak bisa terpisahkan. Untuk bisa memahami budaya massa yang terjadi sekarang ini, kita harus masuk dalam sejarah tiga era kepemimpinan politik yang ada di Indonesia.

Era Soekarno
Soekarno menerapkan politik Demokrasi Liberal dalam artian semua ideologi diperbolehkan tumbuh berkembang. Berdirinya banyak partai dan ormas (Pemilu thn 1955 diikuti 100an partai) membuktikan hal itu. Soekarno bahkan mampu memetakan tiga spektrum kekuatan besar di Indonesia, yakni yang disebutnya dengan Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM). Tiga kekuatan itulah yang coba disatukan Soekarno dalam sebuah cita-cita menjadikan Indonesia negeri yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

Ekonomi Tertutup yang dianut Soekarno terwujud dengan menolak bantuan dari negeri-negeri kolonialist Barat. Penolakan terhadap intervensi kekuatan asing (dalam hal ini dominasi modal) pernah pula ditegaskan oleh salah satu pimpinan teras Partai Komunis Indonesia (PKI) MH. Lukman pada tahun 1959 dalam artikel berjudul ‘Penanaman Modal Asing Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Negeri Kita’. MH. Lukman berkata: “ ….. Kami anti penanaman modal asing karena keyakinan kami bahwa dengan penanaman modal asing atau dengan imperialisme bukan saja tidak bisa memperbaiki tingkat penghidupan rakyat dan mengembangkan ekonomi nasional, tetapi malahan menghancurkan kedua-duanya. Tidak ada kaum imperialis di dunia ini yang menanamkan kapitalnya di manapun juga berdasarkan perikemanusiaan untuk menolong sesama manusia”.

Kita tentu ingat seruan mahsyur Soekarno saat itu: ”Go To Hell With Your Aid..!”

Politik liberal Soekarno justru menjadikan dinamis di lapangan kebudayaan. Lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang (yang ditandatangani di Jakarta tanggal 18 Februari 1950, menyatakan "Revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai"), berlanjut dengan polemik budaya antara Lekra - Manikebu. Selain Lekra (yang lahir pada 17 Agustus 1950) juga terbangun wadah kebudayaan seperti Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang didirikan warga Nahdatul Ulama (NU).

Aura politik Soekarno yang anti penjajahan asing saat itu merembes ke kerja-kerja kebudayaan. Misalnya mobilisasi massa untuk ganyang Malaysia (karena konsolidasi Malaysia akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga jadi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia) dan aksi boikot film-film import oleh Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) karena dinilai berisi propaganda yang berbahaya bagi kesadaran massa.

Era Soeharto
Politik Otoriter Orde Baru terwujud dalam pemasungan: pembatasan hak‑hak dasar partisipasi rakyat dalam berorganisasi – berpolitik. Itu pun masih ditambah dengan penerapan 5 paket UU Politik (Pemilihan Umum, Susunan dan Kedudukan MPR/DPR, Partai Politik dan Golkar, Referendum dan Organisasi Kemasyarakatan), juga dwi fungsi ABRI (militer Indonesia/TNI memiliki dua tugas, yaitu menjaga keamanan - ketertiban negara serta memegang kekuasaan mengatur negara). Ini semua semakin mengukuhkan kontrol dan dominasi kekuasaan Orde Baru Soeharto kepada rakyat. Hanya ada 3 partai politik (PPP – PDI – Golkar); pembredelan koran, majalah dan pelarangan buku‑buku merupakan ”kebijakan” politik Soeharto atas nama ”stabilitas” keamanan negara.

Soeharto menganut sistem Ekonomi Liberal/liberalisasi ekonomi (terbalik 180 derajat dari era Soekarno) dengan membuka lebar pintu bagi modal-modal luar negeri. Tahun 1967 keluar UU No 1 tentang Penanaman Modal Asing/PMA. PMA bebas dari pajak negara, PMA berkuasa penuh atas sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia. Koorporasi raksasa macam Freeport, Newmont, ExxonMobil, ConocoPhilips, Chevron, British Petrolium, HalliBurton dan seterusnya silahkan masuk. Pemerintah juga mulai berhutang pada IGGI, IMF, Bank Dunia, Paris Club.

Politik otoriter Soeharto melahirkan budaya bisu di rakyat. Tak ada budaya kritis, tak berani beda pendapat dengan pemerintah karena negara begitu bengis dan tak segan menghantam siapapun yang mencoba tak ikut aturan. Bahkan bisa-bisa, 5 orang berkumpul tanpa seizin keamanan setempat bisa jadi masalah besar.

Liberalisasi ekonomi (yang kemudian diistilahkan pemerintah dengan globalisasi) praktis membawa masuk produk-produk budaya dari peradaban barat ke Indonesia, mengubah budaya masyarakat kita. Yang tadinya hanya mengenal budaya kerakyatan dan sisa-sisa feodal, sejak adanya gelombang neoliberalisme kita pun tahu: diskotik, Coca Cola, MTV, mode/fashion yang bisa membuat penampilan para remaja kita seragam.

Kita tentu masih ingat film Ghost di tahun 1991, trend saat itu adalah seluruh remaja putri kita meniru plek gaya rambut Demi Moore si pemeran utama film tersebut. Atau ikut pencitraan (seperti sang model dalam produk di iklan di TV) bahwa kulit yang baik itu harus putih, rambut yang bagus itu harus lurus, perut yang sehat itu harus rata (dulu orang ingin jadi gemuk seperti Patih Gajah Mada, Tunggul Ametung, Ken Arok, Napoleon Bonaparte, Alfred Hitchcock karena gemuk adalah simbol kemakmuran dan kesuksesan). Maka berbondonglah orang di seluruh negeri membeli kosmetik pemutih kulit, salon diantri orang yang ingin Ribounding (proses pelurusan rambut secara permanen), gymnasium – fitness centre digeruduk guna pelangsingan perut, makanan, minuman, jamu, obat-obatan dan alat-alat (yang menjanjikan penurunan berat badan dan mengencangkah perut dalam waktu singkat) ramai dibeli orang.

Era Reformasi/Neoliberalisme
Era sekarang (yang orang biasa menyebut dengan era reformasi) pemerintahan kita menerapkan liberalisasi politik dan ekonomi.

Organisasi dan partai politik berdiri, kebebasan berpendapat - kebebasan pers dijamin undang undang (walau demokrasi belum sepenuhnya, karena ajaran Marxisme – Leninisme, Ahmaddiyah masih jadi larangan).

Liberalisasi Ekonomi yang merupakan kelanjutan era Soeharto dulu semakin membuat rakus imperialisme mencaplok sumber daya alam negeri kita (minyak, gas, nikel, emas, timah, baja,

bijih besi dst). Mereka terus berpindah - terus ”browsing” ladang-ladang mana lagi yang bisa dieksploitasi. Ladang lama tergerus habis, tersisa tinggal limbah dan lingkungan rusak.

Runtuh - bangkrutnya industri nasional karena memang tidak mampu bersaing dengan korporasi – korporasi asing dalam hal modal juga SDM/penguasaan technologi.

Karena pembangunan ekonomi/cari modalnya dengan ngutang ke IMF, Bank Dunia, Paris Club maka harus bayar ke para lembaga donor internasional tersebut. Ini menyedot banyak APBN negara yang seharusnya digunakan untuk maximum program – program sosial.

Neoliberalisme dalam budaya menjadikan kita terbiasa belanja ke Mall (yang tumbuh subur menggusur pasar-pasar tradisionil yang dulu becek, bau, plus juga melenyapkan interaksi positif antar sesama pembeli/pembeli dengan pedagang). Tidaklah buruk kalau kita ikut budaya maju peradaban barat, mengkonsumsi makanan capat saji di Mc Donald’s, menikmati musik di Hard Rock Cafe, trance bersama DJ favourite, nonton film terbaru produk Hollywood di Mega Blitz, ngopi di Starbucks sambil online atau mendatangi pameran komputer terbesar untuk update informasi terkini dunia technologi komputer - IT dsb. Hanya saja itu belum jadi budaya yang juga bisa dinikmati seluruh rakyat negeri ini. Mahalnya biaya sekolah berpengaruh pada sumber daya manusia Indonesia. Pada akhirnya kita hanya terus mengkonsumsi tanpa mampu mencipta bahkan menandingi produk-produk maju budaya barat.

Neoliberalisme dalam makna globalisasi juga telah menghilangkan batas-batas negara dan bangsa dalam menaikkan berbagai genre kesenian kita ke tingkat dunia. Sepertinya tak ada sekat dalam menilai bentuk-bentuk kesenian yang berkembang.

Inul bisa saja ditolak di sini, tapi di belahan dunia lain justru diminati. Gamelan dan wayang sekarang jadi milik dunia tak hanya Jawa & Bali. Karya Sastra Pram yang berbahasa Indonesia bisa dibaca warga dunia dengan melalui proses penterjemahan ke 41 bahasa asing. Si ’Laskar Pelangi’ Andrea Hirata diantri dan dikejar ratusan orang yang minta tanda tangannya, tidak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dan Singapura.

Lalu Bagaimana Perjuangan Kebudayaan Di bawah Neoliberalisme?

Lapangan budaya era neoliberalisme sekarang ini memungkinkan kita menggunakan demonstrasi, organisasi, teater, film, vergadering, rapat, kongres, diskusi, selebaran, pamflet sebagai tehnik dan ekspresi dalam berjuang.

Dan suatu perjuangan kebudayaan harus memiliki landasan ideologi, yakni harus punya cita-cita membangun masyarakat sejahtera, modern, berpemerintahan bersih dan pro rakyat/kerakyatan. Akhirnya gerakan kebudayaan bermakna politik. Dalam bentuk kongkritnya, membangun organisasi supaya bisa berbicara seluas-luasnya perihal problem-problem rakyat berikut jalan keluarnya.

Sebagai referensi bolehlah kita belajar dari negeri - negeri yang bisa begitu berdaulat karena berhasil membangun gerakan kebudayaan dan semangat nasionalisme progressif untuk kemajuan bangsanya.

Spirit Swadesi-nya India
Mereka bangun Bollywood untuk melawan dominasi Hollywood, mereka buat merk minuman Cola Cola sebagai tandingan Coca Cola. Di awal 2008 ini Tata Motors Ltd. produsen mobil dan kendaraan komersial terbesar di India meluncurkan mobil termurah di dunia dan berseru: "People's Car". Cara berpakaian banyak orang India (bahkan oleh warganya yang tinggal di luar India) tidak melulu ikut trend mode eropa – amerika. Selain sebagai budaya identitas juga berkaitan erat dengan industri dalam negeri mereka, hasil produk textile dalam negeri mendahulukan kebutuhan dalam negeri India sebelum diexport. India maju dalam hal IT dan perkembangan teknologi, punya banyak jagoan-jagoan software, sampai super komputer tercepat pun tidak kalah dengan negeri-negeri barat.

Spirit Kamikaze-nya Jepang
Siapa sangka negeri sekecil Jepang yang miskin sumber daya alamnya justru mampu menjajah Indonesia (bahkan dunia) yang super besar ini. Industri otomotif mereka begitu digdaya, mobil-mobil buatan Jepang mengisi garasi-garasi rumah rakyat, dan kalau jalan-jalan protokol di seluruh negeri ini sedang macet, dapat dipastikan 100 % kendaraan yang sedang memenuhi jalanan itu pasti produksi Jepang. Icon-icon kebudayaan mereka macam komik Manga, Harajuku Style – J Rock/Japanese Rock mendominasi dunia. Jepang juga mampu mengembangkan tehnik bertani modern/tehnik bertani hidrolik, membangun lahan pertanian secara indoor bahkan di lantai atas sebuah gedung pencakar langit.

Spirit kemandirian China
Kebijakan tegas politik pemerintahan China (kasus Tiananmen, Falun Gong, konflik dengan Taiwan dan Tibet) di satu sisi memang menuai banyak kecaman, tapi sisi lainnya China berhasil dalam menjaga keutuhan dan kemajuan negerinya. Kebijakan tegas lain adalah hukuman berat (potong jari dsb) bagi pelaku korupsi, bahkan berlaku sampai ke keluarga inti; si ayah korupsi, ibu dan anak juga terkena hukuman. Pemerintah China (lewat Departemen Keamanan Publik dan Departemen Publikasi Komite Sentral Partai Komunis China) juga memerangi pornografi yang dikongkritkan dengan penutupan ribuan situs porno. Alasannya tentu bukan karena pemerintah takut terhadap kaum oposan berpropaganda menyerang pemerintah lewat internet, atau bersiap jadi tuan rumah olimpiade 2008, tapi China memproteksi rakyatnya agar tidak jadi “sumber nafkah” bagi situs-situs porno yang banyak datang dari luar China. Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan ada sekitar 210 juta orang yang aktif mengunakan internet tentunya akan jadi pasar menggiurkan bagi bisnis situs porno mencari pelanggan. Kungfu China yang tak pernah mati, terus bermetamorfosis, menerobos Hollywood, improvisasi cerita tanpa membuang identitas budaya asal. Kungfu China mengalahkan legenda Highlander dari Scotland.

Lalu kita sendiri harus gimana..?
Kita sudah menyimpulkan bahwa Indonesia sekarang adalah negeri yang terjajah oleh imperialisme modern. Kongkritnya dengan dikuasainya kekayaan energi dan tambang kita oleh koorporasi-koorporasi asing, juga kewajiban bayar utang luar negeri adalah bentuk penjajahan yang lain.

Untuk bisa maju menjadi negeri-negeri hebat seperti diulas di atas maka kita harus kembali ke semangat Soekarno. Semangat yang dalam istilah pimpinan politik kita waktu itu sebagai TRISAKTI; menjadikan Indonesia Mandiri secara ekonomi, Berdaulat secara politik dan berkepribadian di bidang Budaya.

Sekaranglah keharusan kita membangun gerakan Pembebasan Nasional; lewat demonstrasi, lewat organisasi, dengan teater, film, seni musik, seni sastra, vergadering, rapat, kongres, diskusi, selebaran, pamflet, internet dan berseru: ”Hapus Hutang Luar Negeri, Nasionalisasi Industri Tambang Asing, Bangun Pabrik (Industri) Nasional untuk Kesejahteraan Rakyat.

Meluaskan gerakan pembebasan nasional, menjadikannya budaya bahkan kesadaran luas di rakyat,

itulah tugas para pekerja budaya sekarang ini.
* Tejo Priyono
Ketua Jaker & Kabid Budaya PAPERNAS.
Continue Reading...

Rabu, 12 Agustus 2009

Kepada Kalian Yang Mulia Hawa

Kalian wahai hawa yang mulia.
Dipagari lelucon bodoh entah dari mana asalnya.
Ketika semua berjuang dan menghunus pedangnya.
Lalu haram bagi kalian untuk berada dalam barisan..menunggu dipintu


Pintu rumah..menjemput anak,suami yang entah mayat atau kemenangan..atau malah menjadi tawanan perang dan diisteri oleh musuh musuh..
Kepada kalian wahai hawa yang kutaruh hormat..
Setiap kaki dan tubuh tubuh ini bergerak..dari situ air susumu yang buat ku kokoh..gelisahmusudah meradang..
Lelucon bodoh harus dipendam..
Persamaan atas merdeka adalah keharusan dan kekerasan adalah musuh bersama..
Masuklah,barisanmu selalu ditunggu.


Inu joglo 230909
Continue Reading...

Minggu, 26 Juli 2009

Rumah Dinas Wakil Gubernur

Tiga hari lalu
Bu Tina disurati Walikota
Tujuh kali dua puluh empat jam
Penghuni bantaran kali
Harus angkat kaki

Bu Tina Bingung
Mau pindah kemana
Tak ada uang sewa kontrakan

Uang penganti tak ada
Bu Tina mengeluh:
“Duh Pak Walikota saya mesti tinggal dimana? ”
“Apa saya mesti bangun rumah dikantor bapak?”

Ah, bapak kenapa tak jawab keluh saya

Nasib Bu Tina tak semujur Pak Wagub
Di berita koran
Bu Tina membaca
Pak Wagub mau dihadiahi
Rumah dinas seharga 28 Milyar

Bu Tina Kesel
Rumahnya digusur tanpa ganti untung
Wagub PENGUSUR
Dapat rumah penuh untung….

Jakarta, 26 Juli 2009
Dika Mohammad
Dept. Kajian Informasi & Komunikasi DPN-SRMI
Koord. Taman Bacaan Rakyat Kolong Tol Penjaringan Jakarta Utara
Anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER)


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Continue Reading...
 

Berita SRMI.online Copyright © 2008 Designed by Dewan Pimpinan Nasional Serikat Rakyat Miskin Indonesia